Ada sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik setelah membaca artikel tentang pilihan dana pensiun: “Bagaimana kalau sudah waktunya pensiun, tetapi saya tidak punya dana pensiun?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya tidak sederhana. Sebab, tidak semua orang mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan masa tua dengan cara yang ideal.

Ada yang sejak muda bekerja sebagai karyawan dan mendapatkan program pensiun. Ada yang bisa menyisihkan sebagian penghasilannya setiap bulan. Ada pula yang sejak muda harus membayar sekolah anak, mencicil rumah, membantu orang tua, atau membangun usaha.

Bahkan ada orang yang sepanjang hidupnya bekerja keras, tetapi ketika mendekati usia pensiun baru menyadari:

“Ternyata saya tidak punya persiapan untuk masa tua.”

Kalau sudah seperti itu, apakah semuanya sudah terlambat? Belum tentu.

Memang, kita tidak bisa memutar waktu. Tetapi masih ada sesuatu yang bisa dilakukan. Dan mungkin, yang pertama kali perlu dilakukan bukan mencari investasi.

Jangan Panik, Jangan Merasa Gagal

Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya tidak mempunyai dana pensiun, reaksi pertama yang muncul bisa bermacam-macam. Ada yang panik. Ada yang merasa malu. Ada yang mulai membandingkan dirinya dengan orang lain.

  • “Teman saya sudah punya rumah kontrakan.”
  • “Teman saya punya deposito.”
  • “Teman saya sudah punya tabungan pensiun.”

Sementara dirinya merasa tidak punya apa-apa. Padahal kehidupan setiap orang memang berbeda.

Ada orang yang tabungannya sedikit karena selama puluhan tahun penghasilannya habis untuk membesarkan anak. Ada yang harus membantu keluarga besarnya. Ada yang pernah mengalami kegagalan usaha. Ada pula yang memang tidak pernah mengenal konsep dana pensiun sampai usianya sudah mendekati pensiun.

Menyesali semuanya mungkin manusiawi. Tetapi penyesalan tidak akan membayar listrik bulan depan. Karena itu, setelah menerima kenyataan tersebut, pertanyaan yang lebih berguna adalah: “Sekarang, apa yang masih bisa saya lakukan?”

Jangan Mulai dari Pertanyaan: “Saya Punya Uang Berapa?”

Ini mungkin terdengar aneh. Ketika seseorang tidak mempunyai dana pensiun, biasanya ia langsung berpikir: “Bagaimana saya mendapatkan uang sebanyak mungkin?”

Padahal ada pertanyaan yang lebih mendasar: “Berapa sebenarnya yang saya perlukan untuk hidup?”

Coba duduk dan hitung. Berapa biaya makan? Berapa listrik dan air? Berapa biaya tempat tinggal? Berapa biaya transportasi? Berapa kebutuhan untuk berobat dan menjaga kesehatan? Berapa kebutuhan lain yang benar-benar tidak bisa dihilangkan?

Mungkin selama bekerja seseorang membutuhkan Rp7 juta sebulan karena ada biaya transportasi, pakaian kerja, makan di luar, cicilan, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Tetapi setelah tidak bekerja, kebutuhan tersebut bisa berubah. Bukan berarti hidup harus sengsara. Hanya saja kita perlu membedakan antara kebutuhan dan kebiasaan.

Misalnya, setelah dihitung ternyata kebutuhan dasar yang realistis adalah Rp3,5 juta per bulan. Angka itu jauh lebih berguna daripada sekadar berkata: “Saya tidak punya dana pensiun.”

Karena sekarang kita mempunyai sesuatu yang bisa dikejar.

Targetnya bukan menjadi kaya. Target pertamanya adalah memastikan kebutuhan hidup terpenuhi.

Lihat Apa yang Masih Kita Miliki

Kadang-kadang orang mengatakan dirinya tidak mempunyai dana pensiun. Tetapi bukan berarti dia benar-benar tidak mempunyai apa-apa. Coba lihat kembali kehidupan kita.

Apakah ada rumah? Tanah? Kamar atau bangunan yang bisa disewakan? Kendaraan? Tabungan? Emas? Kebun? Usaha kecil? Peralatan kerja? Keahlian? Pengalaman puluhan tahun? Jaringan pertemanan? Semua itu mempunyai nilai.

Tidak semuanya harus dijual. Justru pada usia tua, kita harus berhati-hati menjual aset yang masih bisa menghasilkan.

Rumah yang bisa dikontrakkan mungkin lebih berguna menghasilkan Rp1,5 juta setiap bulan daripada dijual sekaligus. Sebuah usaha kecil yang menghasilkan Rp1 juta per bulan mungkin terlihat tidak besar.

Tetapi Rp1 juta setiap bulan selama bertahun-tahun adalah sesuatu yang nyata. Karena itu, jangan hanya melihat berapa harga aset kita.

Lihat juga: “Aset ini bisa menghasilkan berapa setiap bulan?”

Itulah cara berpikir yang berbeda antara orang yang sedang mengejar kekayaan dan orang yang sedang menjaga kehidupan di masa tua.

Pensiun Tidak Harus Berarti Berhenti Menghasilkan

Ada kesalahpahaman bahwa pensiun berarti berhenti bekerja. Padahal yang sebenarnya perlu dihentikan mungkin bukan aktivitas menghasilkan uang, tetapi pekerjaan yang terlalu berat bagi tubuh.

Seorang pensiunan yang sudah tidak kuat berdiri seharian mungkin masih bisa mengajar. Seorang mantan pegawai administrasi mungkin masih bisa membantu pekerjaan administrasi dari rumah.

Seorang pedagang mungkin tidak lagi sanggup mengurus toko sepanjang hari, tetapi masih bisa mengelola usaha kecil beberapa jam sehari. Seorang teknisi mungkin tidak lagi kuat bekerja di lapangan, tetapi pengalaman dan pengetahuannya masih bisa digunakan untuk membimbing orang lain.

Ada pula orang yang mempunyai kemampuan memasak, memperbaiki barang, menulis, membuat desain, mengajar, atau menjual sesuatu melalui internet.

Di usia muda, kita menjual tenaga. Di usia tua, sebisa mungkin kita mulai menjual pengalaman dan kemampuan. Itu sebabnya pengalaman puluhan tahun sebenarnya adalah aset. Hanya saja, aset itu tidak tercatat di rekening bank.

Jangan Memaksakan Diri Mengejar Uang Besar

Ini bagian yang menurut saya sangat penting. Ketika seseorang baru sadar bahwa dirinya tidak mempunyai dana pensiun, ia bisa tergoda mengambil jalan pintas.

Ada yang ingin membuka usaha besar menggunakan seluruh tabungannya. Ada yang tergoda investasi dengan keuntungan fantastis. Ada yang ikut bisnis yang tidak benar-benar dipahaminya. Ada yang mulai trading karena berharap uangnya berkembang cepat.

Masalahnya, pada usia muda kita masih mempunyai waktu untuk memperbaiki kesalahan.

Kalau investasi gagal ketika usia 30 tahun, mungkin masih ada 30 tahun lagi untuk bangkit. Tetapi kalau uang terakhir habis ketika usia sudah 65 tahun, situasinya berbeda. Karena itu, semakin dekat seseorang dengan masa pensiun, semakin penting prinsip: jangan sampai kehilangan apa yang masih dimiliki. Tidak perlu mengejar keuntungan luar biasa. Bisa mempertahankan aset dan mendapatkan penghasilan yang cukup secara rutin sudah merupakan pencapaian yang sangat berarti.

Kalau Masih Bisa Bekerja, Jangan Malu untuk Terus Bekerja

Ada anggapan bahwa orang yang sudah pensiun seharusnya tidak perlu bekerja lagi.

Menurut saya, tidak selalu demikian. Selama tubuh masih mampu dan pekerjaan tersebut tidak membahayakan kesehatan, bekerja setelah usia pensiun bukan sesuatu yang memalukan. Justru ada banyak orang yang merasa lebih sehat secara mental ketika masih mempunyai aktivitas.

Yang perlu berubah mungkin bukan hanya pekerjaannya, tetapi cara kita memandang pekerjaan. Tidak harus mengejar jabatan. Tidak harus mengejar omzet besar. Tidak harus bekerja dari pagi sampai malam. Cukup mencari aktivitas yang memberikan dua hal: penghasilan dan rasa berguna.

Kadang-kadang yang kedua justru lebih penting. Sebab memasuki usia tua, seseorang tidak hanya membutuhkan uang. Ia juga membutuhkan alasan untuk bangun pagi.

Bagaimana Kalau Tidak Mempunyai Aset dan Tidak Mampu Bekerja?

Nah, di sinilah persoalannya menjadi lebih berat. Ada orang yang benar-benar tidak mempunyai tabungan, tidak mempunyai aset produktif, dan kondisi fisiknya sudah tidak memungkinkan untuk bekerja.

Dalam keadaan seperti itu, kita tidak boleh memberikan nasihat yang terlalu indah. Tidak cukup mengatakan:

  • “Mulailah investasi.”
  • “Bangun passive income.”
  • “Buat bisnis.”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin benar untuk orang yang masih mempunyai modal dan kemampuan. Tetapi tidak selalu relevan bagi seseorang yang sudah berada di ujung masa produktifnya.

Pada kondisi seperti ini, yang perlu dilakukan adalah mencari jaring pengaman. Keluarga bisa menjadi salah satunya. Anak, saudara, atau keluarga dekat mungkin dapat membantu sebagian kebutuhan.

Bantuan sosial atau program pemerintah juga bisa menjadi pertimbangan apabila memenuhi persyaratan. Dan kalau memungkinkan, komunitas di sekitar kita juga bisa menjadi sumber dukungan.

Tidak ada manusia yang benar-benar hidup sendirian. Kita sering terlalu cepat menganggap bahwa meminta bantuan berarti gagal. Padahal dalam kehidupan, memberi dan menerima bantuan adalah bagian dari hubungan antarmanusia. Hari ini mungkin kita yang membutuhkan bantuan. Besok mungkin justru kita yang bisa membantu orang lain.

Tetapi Jangan Menjadikan Anak sebagai “Dana Pensiun”

Di sisi lain, kita juga harus jujur. Anak bukan rekening pensiun. Anak mempunyai kehidupannya sendiri. Mereka mungkin mempunyai keluarga, rumah, cicilan, pendidikan anak, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Karena itu, kalau orang tua memang membutuhkan bantuan anak, sebaiknya dibicarakan dengan terbuka dan realistis. Jangan membuat anak merasa bahwa seluruh masa depannya harus dikorbankan karena orang tuanya tidak mempunyai persiapan.

Sebaliknya, anak juga sebaiknya memahami bahwa membantu orang tua bukan semata-mata persoalan uang. Kadang bantuan yang paling berarti adalah menemani berobat, membantu mengurus sesuatu, membelikan kebutuhan, atau sekadar memastikan orang tua tidak merasa sendirian.

Rumah Sendiri Juga Mempunyai Nilai

Ada satu aset yang sering dilupakan ketika membicarakan dana pensiun: rumah tempat tinggal. Rumah memang tidak menghasilkan uang secara langsung. Tetapi memiliki tempat tinggal sendiri berarti kita tidak perlu membayar sewa. Itu sebenarnya adalah penghematan yang sangat besar.

Karena itu, seseorang yang tidak mempunyai dana pensiun tetapi mempunyai rumah sendiri berada dalam posisi yang berbeda dengan seseorang yang tidak mempunyai dana pensiun sekaligus masih harus membayar kontrakan setiap bulan.

Dalam kondisi tertentu, rumah juga bisa menjadi bagian dari strategi keuangan masa tua. Misalnya sebagian ruang disewakan. Atau jika rumah terlalu besar dan biaya pemeliharaannya terlalu mahal, suatu saat bisa dipertimbangkan untuk pindah ke rumah yang lebih kecil.

Tetapi keputusan seperti menjual rumah sebaiknya jangan dilakukan karena panik. Rumah bukan sekadar aset. Rumah adalah tempat kita pulang. Dan pada usia tua, nilai tersebut sering kali jauh lebih besar daripada angka yang tertulis di sertifikat.

Yang Paling Penting: Jangan Menunggu Sampai Terlambat

Kalau Anda membaca artikel ini dan belum pensiun, mungkin justru inilah saat yang tepat untuk mulai berpikir. Tidak perlu langsung memikirkan investasi yang rumit. Tidak perlu langsung menentukan berapa ratus juta yang harus dikumpulkan.

Mulailah dengan pertanyaan sederhana: “Kalau suatu hari saya tidak bisa bekerja lagi, dari mana uang untuk hidup saya?”

Kemudian tanyakan lagi:

  • Apakah saya mempunyai tabungan?
  • Apakah saya mempunyai aset?
  • Apakah ada penghasilan yang tetap berjalan tanpa saya bekerja penuh waktu?
  • Apakah saya mempunyai keahlian yang masih bisa digunakan?
  • Apakah rumah saya sudah lunas?
  • Apakah saya mempunyai utang yang harus diselesaikan?
  • Apakah keluarga saya mengetahui kondisi keuangan saya?
  • Dan yang tidak kalah penting: apakah gaya hidup saya sekarang bisa dipertahankan ketika penghasilan menurun?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin terasa kurang menyenangkan. Tetapi lebih baik merasa tidak nyaman sekarang daripada terkejut ketika sudah tidak mempunyai penghasilan.

Tidak Semua Orang Bisa Mempunyai Pensiun yang Ideal

Kita sering membaca nasihat keuangan yang terdengar sangat mudah:

  • “Sisihkan 20% penghasilan.”
  • “Investasikan secara rutin.”
  • “Bangun passive income.”
  • “Siapkan dana pensiun sejak muda.”

Semuanya bagus. Tetapi kehidupan manusia tidak selalu berjalan sesuai teori. Ada yang sakit. Ada yang kehilangan pekerjaan. Ada usaha yang bangkrut. Ada orang tua yang harus dirawat. Ada anak yang membutuhkan biaya besar. Ada pernikahan yang gagal. Ada kebutuhan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.

Karena itu, kita sebaiknya tidak menghakimi orang yang memasuki masa tua tanpa dana pensiun. Mungkin selama ini dia sudah berjuang sekuat yang dia mampu. Yang lebih penting adalah membantu dia melihat apa yang masih bisa dilakukan dari posisi sekarang.

Pensiun Bukan Sekadar Persoalan Uang

Pada akhirnya, persiapan pensiun memang berbicara tentang uang. Tetapi tidak hanya tentang uang. Kita juga perlu mempersiapkan kesehatan. Hubungan dengan keluarga. Teman dan lingkungan sosial. Aktivitas sehari-hari. Tempat tinggal.

Dan yang sering terlupakan: kesiapan mental untuk kehilangan status dan rutinitas pekerjaan.

Ada orang yang secara finansial sangat siap pensiun, tetapi justru merasa kehilangan arah setelah tidak bekerja. Sebaliknya, ada orang yang uangnya tidak banyak tetapi hidupnya tetap terasa cukup karena mempunyai keluarga, lingkungan yang baik, aktivitas yang disukai, dan kebutuhan yang sederhana. Mungkin inilah pelajaran terpentingnya.

Kesimpulan: Jalani Masa Tua dengan Tenang dan Mandiri

Dana pensiun memang penting. Tetapi kehidupan setelah pensiun tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan.

Kalau dana pensiun sudah ada, syukurlah. Kalau belum ada, jangan menyerah. Hitung kebutuhan hidup. Lihat aset yang masih dimiliki. Pertahankan apa yang masih produktif. Cari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan. Kurangi pengeluaran yang tidak perlu. Jaga kesehatan. Jangan mengambil risiko besar hanya karena panik.

Dan kalau memang suatu saat membutuhkan bantuan keluarga, jangan merasa rendah diri untuk mengatakannya. Karena pada akhirnya, tujuan mempersiapkan masa tua bukanlah supaya kita bisa berkata: “Saya tidak membutuhkan siapa pun.”

Mungkin tujuan yang lebih manusiawi adalah: “Saya ingin menjalani masa tua dengan tenang, sebisa mungkin mandiri, dan kalau suatu hari harus menerima bantuan, saya menerimanya tanpa kehilangan harga diri.”

Dan kalau kita masih mempunyai waktu sebelum pensiun, jangan menunggu sampai usia pensiun tiba untuk mulai memikirkannya. Masa tua tidak datang tiba-tiba. Ia datang sedikit demi sedikit, setiap hari.