Ada satu kalimat yang semakin sering terdengar dari pelaku usaha yang sedang menghadapi tekanan biaya: "Saya mau jualan online saja."
Kalimat itu sangat masuk akal. Sewa toko mahal. Gaji karyawan harus dibayar setiap bulan. Listrik, air, kebersihan, keamanan, renovasi, perlengkapan toko, dan berbagai biaya lainnya terus berjalan meskipun pelanggan sedang sepi.
Sementara itu, internet menawarkan sesuatu yang kelihatannya sangat menarik: kita bisa berjualan tanpa harus memiliki toko fisik. Cukup membuat akun media sosial, memasang foto produk, menerima pesanan melalui WhatsApp atau marketplace, lalu barang dikirim kepada pelanggan.
π Logika sederhana yang sering muncul:
- Toko fisik = biaya tinggi
- Online = biaya lebih rendah
- Kesimpulan: Kalau toko mahal, tutup saja. Jualan online.
Tetapi apakah sesederhana itu? Belum tentu. Bahkan untuk jenis usaha tertentu, keputusan meninggalkan penjualan offline sepenuhnya justru dapat menimbulkan masalah baru.
Salah satu contoh yang menarik adalah usaha bakery atau roti segar.
Sebuah studi kasus: bakery yang menutup toko
Bayangkan seorang pengusaha bakery. Selama beberapa tahun ia mempunyai toko. Produksi dilakukan setiap hari, kemudian roti dipajang di etalase dan pelanggan datang membeli.
Pada awalnya usaha berjalan cukup baik. Tetapi kemudian biaya operasional semakin berat. Sewa tempat naik. Biaya tenaga kerja meningkat. Biaya bahan baku juga berubah. Persaingan semakin banyak. Pelanggan tidak selalu datang dalam jumlah yang cukup.
Akhirnya setelah melakukan perhitungan, pengusaha tersebut memutuskan: Tokonya ditutup. Produksi tetap dilakukan. Tetapi sekarang penjualannya akan dilakukan secara online.
Keputusan tersebut sekilas terlihat logis. Tidak ada lagi sewa toko. Tidak perlu menjaga toko sepanjang hari. Tidak perlu menyediakan etalase besar. Tidak perlu membayar pegawai khusus untuk menunggu pelanggan. Produk cukup dipromosikan melalui WhatsApp, Instagram, Facebook, marketplace, atau platform delivery.
Pertanyaan yang lebih mendasar
Tetapi kemudian muncul pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah masalah bisnisnya memang toko?
Atau sebenarnya masalahnya adalah: Bagaimana mendapatkan cukup banyak pelanggan dengan biaya yang lebih rendah daripada keuntungan yang dihasilkan oleh pelanggan tersebut?
Ini dua pertanyaan yang sangat berbeda.
Online adalah kanal penjualan, bukan model bisnis
Inilah hal yang sering terlupakan ketika orang membicarakan digitalisasi usaha. Online bukanlah bisnis. Online adalah channel, atau kanal.
Kita bisa mempunyai:
- kanal toko fisik,
- kanal reseller,
- kanal distributor,
- kanal mobile selling,
- kanal WhatsApp,
- kanal website,
- kanal marketplace,
- kanal media sosial,
- kanal delivery,
- kanal pre-order.
Sebuah bisnis dapat menggunakan satu kanal atau beberapa kanal sekaligus.
Dalam teori retail modern, pendekatan seperti ini sering dibahas dalam konsep omnichannel retailing. Online dan offline bukan semata-mata dua dunia yang harus dipilih salah satunya, tetapi dapat dipandang sebagai bagian dari perjalanan pelanggan (customer journey) yang sama. Penelitian dalam Journal of Retailing bahkan menggambarkan omnichannel sebagai suatu kontinum integrasi antara kanal online dan offline, dari tahap pencarian informasi sampai pembelian dan layanan setelah pembelian.
Karena itu pertanyaannya bukan: "Online atau offline?"
Pertanyaan yang lebih tepat adalah: "Kombinasi kanal seperti apa yang paling sesuai dengan karakter produk, pelanggan, lokasi, biaya, dan kemampuan perusahaan?"
Mengapa bakery berbeda?
Sekarang kita kembali ke contoh bakery. Roti segar mempunyai karakter yang berbeda dari barang seperti buku, pakaian, software, atau peralatan rumah tangga.
Roti mempunyai umur jual yang terbatas. Semakin lama tidak terjual, semakin besar kemungkinan kualitasnya menurun atau produk tersebut menjadi tidak layak dijual.
Dalam rantai pasok bakery, persoalan surplus dan waste memang merupakan masalah penting. Penelitian mengenai hubungan bakery-retailer yang terbit pada 2025 mengidentifikasi antara lain pengelolaan assortment, jadwal pemesanan, pertukaran data, pengukuran surplus harian, serta pengelolaan produk sisa sebagai faktor penting dalam mengurangi bread waste.
Artinya, pengusaha bakery tidak hanya menghadapi persoalan: "Bagaimana membuat roti?" Tetapi juga: "Bagaimana memastikan roti yang dibuat hari ini terjual dalam waktu yang tepat?"
Itulah sebabnya distribusi menjadi sangat penting.
Toko sebenarnya mempunyai fungsi yang lebih besar daripada sekadar tempat membayar
Ketika seseorang mengatakan: "Toko itu mahal."
Secara akuntansi mungkin benar. Tetapi secara bisnis, toko mempunyai beberapa fungsi.
Toko adalah: tempat produk ditemukan, tempat produk dilihat, tempat produk dicium dan diamati, tempat pembelian spontan terjadi, tempat pelanggan berinteraksi dengan merek, dan tentu saja: tempat transaksi dilakukan.
Untuk produk makanan, fungsi tersebut dapat menjadi sangat penting.
Penelitian mengenai pembelian makanan segar menunjukkan bahwa konsumen sering memiliki preferensi terhadap kanal offline karena pembelian offline memberikan akses segera, pengalaman melihat dan merasakan produk, serta mengurangi persoalan yang berkaitan dengan kecepatan pengiriman dan kesegaran.
Dengan kata lain, toko bukan hanya "kotak tempat kasir berada". Toko adalah salah satu mesin akuisisi pelanggan. Kalau toko ditutup, mesin tersebut memang menghilangkan biaya.
Tetapi kita juga harus bertanya: Fungsi toko yang hilang itu akan digantikan oleh apa?
Menghilangkan biaya belum tentu meningkatkan keuntungan
Ini prinsip bisnis yang sangat penting.
Misalnya sebuah toko mengeluarkan biaya: Rp10 juta per bulan. Kemudian toko ditutup. Sekilas perusahaan telah menghemat Rp10 juta. Tetapi setelah toko ditutup ternyata penjualan turun Rp30 juta.
Jika margin kontribusi dari penjualan tersebut 40%, maka perusahaan kehilangan sekitar Rp12 juta contribution margin.
π Hitungannya:
- Penghematan biaya: Rp10 juta
- Kehilangan contribution margin: Rp12 juta
- Hasil akhirnya bukan penghematan Rp10 juta, justru bisnis menjadi lebih buruk sekitar: Rp2 juta
Angka tersebut hanya ilustrasi, tetapi prinsipnya sangat penting.
Dalam pengambilan keputusan bisnis, kita tidak boleh hanya melihat: "Berapa biaya yang berhasil saya hilangkan?" Kita juga harus melihat: "Berapa pendapatan dan margin yang ikut hilang akibat keputusan tersebut?"
Inilah pentingnya contribution margin
Untuk memahami persoalan ini, kita dapat menggunakan konsep sederhana dalam managerial accounting: contribution margin.
Misalnya sebuah bakery menjual satu roti seharga: Rp10.000
Biaya variabel yang langsung berkaitan dengan roti tersebut, misalnya:
- bahan baku: Rp3.000
- kemasan: Rp500
- komisi kanal: Rp500
Total biaya variabel: Rp4.000
Maka contribution margin: Rp10.000 β Rp4.000 = Rp6.000
Setiap roti yang terjual memberikan Rp6.000 untuk menutup biaya tetap dan kemudian menghasilkan laba.
Sekarang bayangkan bakery mempunyai biaya tetap Rp12 juta per bulan. Maka secara sangat sederhana diperlukan: Rp12.000.000 Γ· Rp6.000 = 2.000 roti per bulan hanya untuk menutup biaya tetap.
Jika beroperasi 25 hari: 2.000 Γ· 25 = 80 roti per hari.
Maka persoalan bisnisnya bukan: "Haruskah saya mempunyai toko?" Tetapi: "Bagaimana mendapatkan penjualan minimal 80 roti per hari dengan contribution margin yang cukup?"
Toko hanyalah salah satu kemungkinan jawabannya. Online juga salah satunya. Mobile selling juga salah satunya. Titip jual juga salah satunya. Pesanan kantor juga salah satunya. Pre-order juga salah satunya.
Online mempunyai keunggulan, tentu saja
Ini bukan artikel untuk mengatakan bahwa jualan online itu buruk. Justru sebaliknya. Berjualan online adalah salah satu perubahan paling penting dalam perdagangan modern.
Online dapat memberikan beberapa keuntungan:
- Jangkauan lebih luas β Sebuah usaha kecil tidak lagi hanya dikenal oleh orang yang melewati tokonya.
- Komunikasi lebih cepat β Promosi dapat dilakukan setiap saat.
- Pre-order menjadi lebih mudah β Pelanggan dapat memesan sebelum produk dibuat.
- Database pelanggan dapat dibangun β Nomor WhatsApp, akun pelanggan, riwayat pembelian, dan preferensi dapat menjadi aset pemasaran.
- Repeat order lebih mudah β Pelanggan yang sudah mengenal produk tidak harus datang ke toko untuk melakukan pemesanan berikutnya.
- Biaya beberapa aktivitas dapat ditekan β Tidak semua fungsi toko fisik harus dipertahankan.
- Wilayah pasar dapat diperluas β Selama logistik memungkinkan, pelanggan tidak harus tinggal tepat di sekitar toko.
Karena itu, online jelas merupakan alternatif penting dalam bisnis zaman sekarang. Masalahnya hanya satu: Online tidak otomatis membuat bisnis menguntungkan.
Kesalahan berpikir: "Kalau tidak punya toko, berarti biaya kecil"
Belum tentu. Bisnis online juga mempunyai biaya, yaitu:
- biaya iklan,
- biaya konten,
- biaya marketplace,
- komisi platform,
- biaya payment gateway,
- biaya kemasan,
- biaya delivery,
- biaya customer service,
- biaya retur atau komplain,
- biaya promosi,
- biaya diskon,
- biaya fotografer/desainer jika diperlukan,
- dan yang paling penting: biaya mendapatkan pelanggan.
Dalam digital marketing kita mengenal konsep Customer Acquisition Cost (CAC).
Secara sederhana: Berapa biaya yang diperlukan untuk mendapatkan seorang pelanggan baru? Misalnya seorang pelanggan membeli roti Rp50.000. Tetapi untuk mendapatkan pelanggan tersebut, bakery harus mengeluarkan biaya iklan rata-rata Rp20.000.
Belum tentu masalah selesai. Kita masih harus melihat: Berapa contribution margin dari Rp50.000 tersebut?
Jika contribution margin hanya Rp15.000, maka pelanggan pertama tersebut belum menguntungkan. Bisnis baru menjadi menarik jika pelanggan tersebut melakukan repeat order.
Karena itu bisnis online yang sehat bukan sekadar: "Saya sudah bisa mendapatkan order." Tetapi: "Berapa biaya mendapatkan pelanggan, berapa margin yang dihasilkan, dan berapa kali pelanggan tersebut membeli kembali?"
Masalah lain: online tidak menciptakan traffic dengan sendirinya
Ada anggapan: "Kalau sudah jualan online, orang akan menemukan kita." Ini juga tidak otomatis benar.
Internet sangat besar. Media sosial penuh dengan penjual. Marketplace penuh dengan produk. Google penuh dengan informasi. Kalau seseorang tidak mengenal sebuah bakery, mengapa ia harus mencari bakery tersebut?
Inilah sebabnya toko fisik mempunyai satu keunggulan yang sering tidak dihitung: passive traffic. Orang lewat. Melihat papan nama. Melihat etalase. Mencium aroma roti. Kemudian membeli. Pembelian semacam ini sulit terjadi jika bakery hanya berada di internet dan menunggu orang mencari.
Online tetap membutuhkan traffic generation. Traffic itu bisa berasal dari:
- iklan,
- SEO,
- media sosial,
- komunitas,
- influencer,
- pelanggan lama,
- referral,
- marketplace,
- WhatsApp,
- konten,
- atau berbagai aktivitas pemasaran lainnya.
Jadi ketika toko ditutup, persoalannya bukan selesai. Mesin traffic harus diganti.
Tetapi apakah berarti bakery harus membuka toko lagi?
Tidak juga. Ini bagian yang menarik. Pilihan bisnis tidak hanya: toko besar atau online saja. Ada banyak bentuk di antara keduanya. Misalnya:
- Kios kecil β Tidak perlu toko bakery yang besar. Cukup tempat kecil dengan display produk yang menarik.
- Booth β Bisa ditempatkan di lokasi yang mempunyai traffic sesuai target pelanggan.
- Titip jual β Produk ditempatkan di kedai kopi, warung, kantin, atau toko lain.
- Mobile bakery β Produk dibawa menggunakan kendaraan ke lokasi pelanggan.
- Pre-order point β Pelanggan memesan online, kemudian mengambil produk di titik tertentu.
- Corporate order β Produksi berdasarkan pesanan kantor, sekolah, komunitas, acara, dan sebagainya.
- Delivery β Produk dikirim kepada pelanggan yang sudah memesan.
Dengan demikian, kita tidak perlu memilih antara dua ekstrem: 100% offline atau 100% online.
Bagaimana kalau menggunakan mobil toko?
Untuk bakery, konsep mobile selling cukup menarik. Bayangkan sebuah kendaraan sederhana. Tidak harus seperti food truck mahal. Bisa saja kendaraan yang sudah dimiliki kemudian dilengkapi:
- branding,
- rak,
- display,
- lampu,
- tempat penyimpanan,
- dan sistem pembayaran digital.
Pagi hari kendaraan berada di kompleks perumahan. Kemudian berpindah ke area perkantoran. Sore hari berada di kawasan lain.
Konsepnya berubah dari: "Pelanggan datang ke toko." menjadi: "Toko datang kepada pelanggan."
Keuntungan penting dari pendekatan ini adalah fleksibilitas lokasi. Jika suatu lokasi ternyata buruk, kendaraan dapat dipindahkan. Sementara toko permanen mempunyai fixed location dan biasanya juga fixed cost.
Namun mobile bakery pun bukan otomatis solusi. Kendaraan, bahan bakar, tenaga kerja, perizinan, maintenance, dan biaya operasional tetap harus dihitung. Jadi lagi-lagi: bukan idenya yang menentukan, tetapi economics-nya.
Bahkan toko kecil pun harus diuji, bukan ditebak
Misalnya ditemukan sebuah kios kecil. Sewa hanya Rp3 juta per bulan. Jauh lebih murah daripada toko lama.
Apakah berarti pasti bagus? Belum tentu. Yang perlu dihitung: Berapa tambahan penjualan yang dihasilkan kios tersebut?
Misalnya kios membutuhkan biaya total Rp5 juta per bulan. Jika contribution margin per roti Rp6.000, maka kios harus menghasilkan: Rp5.000.000 Γ· Rp6.000 β 834 roti per bulan.
Jika buka 26 hari: sekitar 32 roti tambahan per hari.
Kalau lokasi tersebut realistis menghasilkan tambahan 50 roti per hari, mungkin menarik. Kalau hanya 10 roti per hari, tidak menarik.
Inilah cara berpikir yang lebih sehat. Bukan: "Kios ini murah." Tetapi: "Apakah tambahan contribution margin yang dihasilkan kios ini lebih besar daripada seluruh biaya tambahan yang ditimbulkannya?"
Jangan lupa masalah produksi
Ada satu masalah yang bahkan lebih penting untuk bakery: jangan memproduksi berdasarkan harapan.
Kalau hari ini diperkirakan akan laku 300 roti, kemudian diproduksi 300 roti, tetapi yang terjual hanya 180, maka 120 roti menjadi persoalan.
Semakin mudah rusak produk tersebut, semakin penting pengendalian produksi. Karena itu bakery perlu menghubungkan:
forecast β produksi β distribusi β penjualan β retur/sisa
Data penjualan kemarin harus digunakan untuk menentukan produksi hari ini.
Penelitian tentang bakery-retailer juga menekankan pentingnya pengukuran surplus harian, pengelolaan assortment, jadwal pemesanan, dan pertukaran informasi dalam mengurangi surplus roti.
Dengan kata lain: Digitalisasi seharusnya bukan hanya membuat orang bisa memesan roti melalui internet. Digitalisasi juga seharusnya membantu pengusaha mengendalikan bisnisnya.
Model yang lebih menarik: central kitchen + multi-channel
Dari sini muncul sebuah model yang menurut saya lebih masuk akal untuk bakery kecil yang tidak lagi mampu menanggung toko besar. Misalnya:
Central Kitchen
β¬
Produksi
β¬
Tidak ada satu kanal yang harus menjadi satu-satunya sumber pendapatan.
Online justru bisa menjadi pengikat semua kanal tersebut
Inilah peran online yang menurut saya lebih menarik.
Bayangkan seorang pelanggan melihat mobil bakery di depan kompleks. Dia membeli roti. Kemudian diberi informasi: "Besok kami lewat lagi di sini. Kalau mau pesan, WhatsApp saja."
Pelanggan menyimpan nomor tersebut. Besok dia tidak perlu menunggu mobil lewat. Dia memesan.
Hari berikutnya bakery mengirim pesan: "Hari ini kami berada di lokasi Anda pukul 07.00β09.00."
Online sekarang bukan menggantikan offline. Online memperkuat offline. Inilah semangat omnichannel.
Penelitian mengenai omnichannel pada fresh food menunjukkan bahwa integrasi informasi, proses bisnis, serta layanan dan distribusi dapat meningkatkan pengalaman pelanggan dan engagement.
Bahkan bisa dibuat sistem langganan
Untuk bakery, konsep lain yang menarik adalah subscription atau recurring order.
Misalnya sebuah keluarga berlangganan:
Paket Roti Pagi
SeninβJumat
Rp300.000 per bulan
Atau sebuah kantor: 20 paket sarapan Γ 20 hari
Dengan sistem seperti ini, bakery memperoleh sesuatu yang sangat berharga: kepastian permintaan.
Daripada setiap pagi bertanya: "Hari ini kira-kira laku berapa?" pengusaha sudah mempunyai sebagian permintaan yang diketahui sebelumnya. Ini dapat membantu produksi dan mengurangi waste.
Jangan menjual terlalu banyak jenis produk
Masalah berikutnya adalah assortment. Pengusaha bakery sering merasa: "Semakin banyak pilihan, semakin menarik." Tetapi semakin banyak SKU, semakin rumit pula:
- persediaan bahan,
- produksi,
- forecasting,
- display,
- pengendalian kualitas,
- distribusi,
- dan risiko produk tidak terjual.
Lebih baik mengetahui: 5 produk yang benar-benar menghasilkan uang daripada mempunyai: 50 produk yang sekadar memenuhi etalase.
Setiap produk sebaiknya dievaluasi berdasarkan:
- volume penjualan,
- harga jual,
- biaya variabel,
- contribution margin,
- frekuensi pembelian,
- tingkat retur,
- dan waste.
Produk yang populer tetapi marginnya sangat kecil belum tentu merupakan produk terbaik. Sebaliknya, produk dengan volume lebih kecil tetapi margin tinggi mungkin justru penting.
Cara menguji bisnis tanpa mengambil risiko besar
Bagaimana kalau seorang pengusaha bakery sudah menutup tokonya?
Tidak perlu langsung mengambil keputusan besar. Lakukan eksperimen pasar. Misalnya selama 30 hari.
Minggu pertama
Produksi terbatas. Uji:
- WhatsApp,
- media sosial,
- delivery,
- pre-order.
Tujuannya bukan mengejar omzet maksimal. Tujuannya mengetahui: siapa yang membeli dan bagaimana mereka membeli.
Minggu kedua
Cari beberapa titik titip jual. Misalnya 5β10 lokasi. Berikan jumlah terbatas. Catat:
- berapa yang dititipkan,
- berapa yang terjual,
- berapa lama habis,
- berapa yang kembali,
- berapa margin bersih.
Minggu ketiga
Uji mobile selling. Tidak perlu membeli kendaraan baru. Gunakan kendaraan yang tersedia. Coba beberapa lokasi dan jam berbeda.
Minggu keempat
Bandingkan semua kanal.
| Kanal | Penjualan | Margin | Biaya | Waste | Repeat |
|---|---|---|---|---|---|
| Online | ... | ... | ... | ... | ... |
| Titip jual | ... | ... | ... | ... | ... |
| Mobile | ... | ... | ... | ... | ... |
| Pre-order | ... | ... | ... | ... | ... |
| Corporate | ... | ... | ... | ... | ... |
Dari sini keputusan menjadi jauh lebih objektif. Bukan lagi berdasarkan perasaan: "Sepertinya online lebih murah." atau: "Sepertinya toko lebih bagus." Tetapi berdasarkan: "Kanal ini menghasilkan contribution margin sebesar X dengan biaya sebesar Y."
Ada pelajaran penting dari kasus bakery ini
Sebenarnya masalah tersebut bukan masalah bakery saja. Hal yang sama dapat terjadi pada banyak usaha. Restoran. Warung makan. Toko bunga. Laundry. Produk pertanian. Katering. Produk frozen food. Bahkan beberapa jenis jasa.
Ketika biaya tempat meningkat, pemilik usaha mungkin berkata: "Saya pindah online saja." Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: "Apa fungsi tempat tersebut bagi bisnis saya?"
Jika tempat tersebut hanya berfungsi sebagai tempat administrasi, mungkin memang bisa dihilangkan.
Tetapi jika tempat tersebut juga menghasilkan traffic, kepercayaan, pengalaman pelanggan, impulse buying, pickup point, dan distribusi, maka menghilangkannya mempunyai konsekuensi.
Jangan menganggap digitalisasi sebagai obat segala penyakit
Digitalisasi memang dapat memberikan efisiensi. Tetapi digitalisasi tidak mengubah hukum dasar bisnis.
Produk tetap harus mempunyai nilai. Harga tetap harus masuk akal. Biaya tetap harus dikendalikan. Pelanggan tetap harus ditemukan. Pelanggan harus mempunyai alasan untuk membeli. Produk harus tersedia ketika dibutuhkan. Dan pendapatan harus lebih besar daripada biaya dalam jangka panjang.
Internet tidak menghapus semua itu. Internet hanya memberikan alat baru untuk melakukannya.
Bisnis tetap membutuhkan strategi distribusi
Ada kecenderungan membicarakan bisnis online seolah-olah persoalan distribusi sudah selesai. Padahal belum.
Ketika seseorang membeli roti secara online, masih ada pertanyaan: Siapa yang mengantarkan? Berapa biayanya? Berapa lama? Apakah roti masih dalam kondisi baik? Apakah pelanggan bersedia membayar ongkir? Apakah satu pesanan cukup untuk menutup biaya pengiriman?
Untuk produk yang sangat sensitif terhadap waktu dan kesegaran, persoalan ini semakin penting. Dalam penelitian mengenai fresh food, karakteristik produk yang mudah rusak memang membuat online channel menghadapi tantangan logistik yang berbeda dibandingkan produk nonperishable.
Jadi: Online selling tidak menghapus masalah distribusi. Ia hanya mengubah bentuk masalah distribusi.
Mungkin justru bukan "online atau offline"
Setelah melihat persoalan ini lebih jauh, mungkin pertanyaan yang paling tepat bukan: "Haruskah saya jualan online atau offline?" Tetapi: "Bagaimana pelanggan saya ingin membeli produk ini?"
Kemudian pertanyaan berikutnya: "Bagaimana saya dapat melayani cara pembelian tersebut dengan biaya paling rendah?"
Untuk sebagian produk, jawabannya mungkin online. Untuk sebagian lainnya, offline. Untuk banyak usaha, jawabannya mungkin keduanya.
Dari toko besar menjadi jaringan kecil
Ada satu konsep yang menarik dari kasus bakery tadi. Dulu modelnya: Satu toko besar β Semua pelanggan datang ke sana.
Model baru dapat menjadi: Satu central kitchen β Banyak titik penjualan kecil
Misalnya:
- 1 mobile bakery,
- 10 titik titip jual,
- 2 pelanggan kantor,
- 1 kanal online,
- beberapa pelanggan pre-order.
Tidak ada satu pun yang harus menjadi toko besar. Tetapi secara keseluruhan, jaringan tersebut mungkin menghasilkan penjualan yang lebih besar dengan fixed cost yang lebih rendah.
Ini bukan sekadar mengganti toko dengan internet. Ini adalah mendesain ulang sistem distribusi.
Yang harus dipikirkan pengusaha sebenarnya adalah "cara berusaha"
Inilah kesimpulan yang menurut saya paling penting. Seorang pengusaha tidak cukup hanya bertanya: "Saya harus jualan di mana?" Ia harus bertanya: "Bagaimana bisnis ini menghasilkan keuntungan?"
Kemudian:
- Siapa pelanggan saya?
- Mengapa mereka membeli?
- Berapa nilai satu pelanggan bagi bisnis saya?
- Berapa biaya mendapatkan pelanggan?
- Berapa margin dari setiap transaksi?
- Berapa sering mereka membeli kembali?
- Bagaimana produk sampai kepada mereka?
- Berapa banyak produk yang harus diproduksi?
- Berapa banyak yang terbuang?
- Kanal mana yang paling menguntungkan?
Barulah setelah itu kita menentukan: online, offline, mobile, reseller, titip jual, marketplace, toko, atau kombinasi semuanya.
Jadi, apakah berjualan online itu pilihan yang baik?
Ya. Bahkan dalam banyak kasus, sangat baik. Tetapi jangan membuat kesalahan logika: "Online lebih murah daripada toko, maka online pasti lebih menguntungkan." Itu tidak selalu benar.
Yang benar adalah: Online adalah salah satu cara untuk menjalankan bisnis.
Kadang-kadang online mengurangi biaya. Kadang-kadang online memperluas pasar. Kadang-kadang online meningkatkan repeat order. Kadang-kadang online justru menambah biaya iklan, komisi, dan logistik.
Semuanya tergantung pada model bisnisnya.
Kembali kepada bakery
Untuk bakery yang sudah tidak sanggup menanggung biaya toko, menutup toko mungkin merupakan keputusan yang benar.
Tetapi setelah toko ditutup, pekerjaan belum selesai. Pertanyaan berikutnya justru lebih penting: Bagaimana roti akan menemukan pembelinya?
Mungkin jawabannya: online. Mungkin juga: mobile bakery, kios kecil, titip jual, pesanan kantor, subscription. Atau mungkin semuanya dalam proporsi tertentu.
Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua bakery. Yang harus dicari adalah kombinasi kanal dengan economics terbaik.
Jangan membangun toko untuk mencari pelanggan
Ada prinsip yang cukup kuat untuk diingat: Jangan membangun fasilitas terlebih dahulu hanya karena kita berharap pelanggan akan datang.
Cari tahu terlebih dahulu di mana pelanggan berada. Cari tahu bagaimana mereka ingin membeli. Cari tahu berapa banyak mereka bersedia membeli. Kemudian bangun fasilitas yang diperlukan untuk melayani permintaan tersebut.
Karena itu, sebuah usaha kecil mungkin tidak membutuhkan toko besar. Mungkin cukup: central kitchen + mobile selling + beberapa titik titip jual + online pre-order.
Dan ketika volume penjualan sudah cukup besar, barulah outlet permanen mungkin masuk akal.
Outlet bukan tujuan. Outlet adalah alat.
Begitu pula: website bukan tujuan. Instagram bukan tujuan. Marketplace bukan tujuan. WhatsApp bukan tujuan. Semuanya hanyalah alat. Tujuan akhirnya tetap sama: menciptakan nilai bagi pelanggan dan menghasilkan keuntungan yang sehat bagi bisnis.
Penutup: jangan mencari kanal yang "paling modern", cari cara yang paling masuk akal
Kita hidup pada zaman ketika hampir semua orang berbicara tentang digitalisasi. Jualan online. Digital marketing. Marketplace. Social commerce. Live shopping. AI. Otomatisasi.
Semua itu penting. Tetapi ada satu hal yang tidak berubah: bisnis harus tetap menghasilkan uang.
Roti tetap harus dibuat. Roti tetap harus sampai kepada pembeli. Roti tetap harus cukup segar. Pelanggan tetap harus mempunyai alasan untuk membeli. Biaya tetap harus dibayar. Dan produk yang tidak terjual tetap menjadi masalah.
Karena itu, ketika seorang pengusaha berkata: "Aku ingin jualan online saja." mungkin pertanyaan yang paling baik bukan: "Bagus. Jualan di mana?" Tetapi: "Mengapa online? Masalah bisnis apa yang ingin kamu selesaikan dengan online?"
Jika jawabannya adalah: "Karena toko mahal." Maka kita masih harus bertanya: "Bagaimana menggantikan fungsi toko yang hilang?"
Jika jawabannya: "Supaya biaya lebih kecil." Maka kita masih harus bertanya: "Apakah biaya yang hilang lebih besar daripada penjualan dan margin yang ikut hilang?"
Dan jika jawabannya: "Karena sekarang zamannya online." Maka kita perlu mengingat: Zaman boleh berubah. Teknologi boleh berubah. Cara pelanggan membeli boleh berubah. Tetapi pengusaha tetap harus berpikir.
Online adalah jalan. Offline adalah jalan. Mobile adalah jalan. Reseller adalah jalan. Pre-order adalah jalan. Omnichannel adalah jalan.
Yang penting bukan jalan mana yang terlihat paling modern.
Yang penting adalah: jalan mana yang membawa bisnis menuju pelanggan, penjualan, dan keuntungan secara berkelanjutan.